
Sebuah hubungan pria-wanita selalu dimulai dari perkenalan, penyesuaian, dan pertemanan. Bila berhasil merasakan kesenangan dan kenyamanan akan mulai menggunakan perasaan. Biasanya akan muncul keinginan untuk mendekatkan diri baik secara emosi maupun fisik. Tindakan-tindakan dalam hubungan akan menampakan kebutuhan saling memperhatikan dan mengasihi. Hingga, tanpa sadar kita menginginkan keintiman dalam hubungan ini.
Ketahuilah, mengejar keintiman tanpa komitmen adalah seperti mendaki gunung dengan seorang teman di mana ketika kita telah hampir mencapai puncak gunung, ia tidak yakin apakah ia mau memegangi talinya atau tidak. Sama rasanya, setelah ribuan meter di udara dan teman Anda sebenarnya merasa terpaksa dalam hubungan ini.
Saya bukannya melarang keintiman. Saya menikmatinya. Namun saya teringat dengan sebuah kalimat yang berkata, bahwa keintiman adalah buah dari komitmen. Bearti tidak boleh ada keintiman jika belum ada komitmen. Bahkan Amsal berkata dua orang tidak bisa berjalan bila belum membuat sebuah janji, apakah lagi, jika mereka menginginkan keintiman tanpa sebuah komitmen?
Kesimpulannya adalah jika kita belum siap untuk mengikatkan diri kita kepada seseorang, kita tidak siap untuk mengejar keintiman.






