December 30, 2009

I Met You


Di mana ada pertemuan pasti ada perpisahan, tapi akan ada pertemuan lagi

Mungkin ini akan menjadi salahsatu tulisan favorit saya. Saya bertemu dengan seorang yang saya nantikan tiga tahun terakhir ini. Tanpa sengaja, saya bertemu dengannya. Just to say hello and say good bye. Menarik dan berkesan secara pribadi buat saya.

Tapi saya tidak mau menceritakannya dari sisi subjektif melainkan objektif. Sekalipun tangan saya sangat-amat ingin menuliskan betapa senangnya perasaan saya, namun saya menahannya. Ada satu perasaan yang sebaiknya kita rasakan dan nikmati sendiri. Dengan demikian perasaan itu akan tersimpan lebih lama dari biasanya, menurut saya.


This is it
Jika kamu saat ini merasa kangen bahkan begitu kangennya pada seseorang namun belum bisa bertemu, mungkin karena long distance, pekerjaan dan study atau memang karena perasaan-perasaan yang belum bisa hilang. Seperti gengsi, malu dan bingung mau berbuat apa saat bertemu nanti. Kesimpulannya, kamu sebenarnya belum siap untuk bertemu dengannya.

Merupakan hal yang normal, dan sebaiknya kamu tidak perlu memaksakan berbagai macam cara untuk bertemu atau menghubunginya. Cukup nantikan saja, waktu yang tepat akan datang sendirinya saat kamu bertemu dengan seseorang tersebut.
Seperti inilah yang saya rasakan.

Secara hiperbola saya gambarkan, saya menantikan perjumpaan dengan dia-yang berasal dari masa lalu saya ini- bukan untuk waktu yang singkat. Beberapa tahun. Tapi itulah proses. Tanpa sadar saat ini saya sudah menjadi jauh lebih kuat dari sebelumnya. Saat yang tepat seperti inilah, saya tidak sengaja bertemu dengannya. Dan berjalan begitu singkat namun tetaplah berkesan baik.


Bayangkan kalau saya bertemu dengannya di masa-masa saya masih menangis semalaman, wajah yang kusut, hati yang masih penuh luka dan kecewa, saya pikir saya akan tampak bodoh di hadapannya. Dan saya juga mempertimbangkan kita harus bijak, kita semua berharap saat bertemu dengan orang-orang yang dari masa lalu kita, kita sudah tampil dengan jauh lebih baik.

Kita harus show up, cheer up dan say I can live without you. Sekalipun di waktu - waktu sebelumnya kita tampak begitu hancur luluh lantah tanpa dirinya.
So, lengkap sudah cerita saya yang bersambung dari tulisan saya sebelumnya. (Past) Great, life must go on.

Experience



More experience more heart broken


Berani jatuh hati, itu berarti siap untuk dilukai. Mengatakan aku mengasihimu sama saja menjadi tanda aku siap untuk dilukaimu. Seorang teman lama saya mengatakan demikian,”If you love someone so much it means you must prepare to forget him so hard.”

Rasanya menyenangkan untuk membangun sebuah hubungan khusus dengan seorang laki-laki. Saya beberapa kali merasakannya. Bahkan mungkin dulu saya bisa dikategorikan perempuan yang memacari anak orang. Namun kini apa yang saya dapatkan? Nothing. Just more heart broken.


Ini hal yang ingin saya sampaikan pada kalian. Sebagain orang berfikir kita harus belajar dari kegagalan. Namun itu tidak berlaku bagi saya khususnya di dalam build a relationship. Did you know, KEMENANGAN ADALAH GURU YANG TERBAIK. Mungkin Anda masih belum mengerti apa hubungannnya kegagalan dan kemenangan dibandingkan dengan relationship. Saya mencoba untuk menjelaskannya.


Untuk beberapa hal lainnya, seperti study atau bisnis, kita harus mau mencobanya sekalipun ada kemungkinan untuk gagal. Kalau tidak dicoba, kita tidak tahu apa akan berhasil atau tidak, kira-kira begitulah kalimat sederhananya. Tapi tidak untuk relationship!


Pacaran bukanlah hal untuk dicoba-coba. No! Kamu salah besar, jika kamu mencoba untuk memacari dirimu dengan seorang cowok yang sebenarnya kamu masih ragu sama dia. Sekalipun kamu yakin dia perfect 100% pasti masih bisa menyakiti kamu, apalagi jika kamu tahu dia memang tidak masuk dalam qualified kamu sebagai pendamping yang baik, katakan tidak sekarang juga.


Okeylah kalau gagal saat lomba, kamu akan merasa malu atau kehilangan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan hadiahnya yang bisa berupa uang atau hiburan lainnya. Namun dibandingkan urusan be with you (pacaran) lebih dari itu yang harus kamu rasakan dampaknya. Ada satu resiko yang tidak mungkin, tidak didapat, yaitu akibat sakit hatinya.


Oleh karena itu, saya menyimpulkan more experience more heart broken.


Dan saya teringat sebuah hal yang mengatakan, “Justru dengan pengalaman putus-nyambung dalam pacaran sebenarnya tanpa sadar kita telah membiasakan diri dalam menikah-cerai. Itulah salah satu faktor pendorong yang belum disadari banyak orang.” Mungkin terkesan terlalu jauh, tapi bayangkan impartasi yang sebenarnya mulai membodohi kita.


Let’s talk about the solution

Sekarang kamu bisa mengambi satu pelajaran, bahwa bukan berarti semakin banyaknya pengalaman kamu berpacaran dengan seseorang akan membuat kamu ahli atau berhasil nanti dalam berumah tangga nanti. Saat ini saya harus mengajak Anda memandangnya dari sisi negative. Bayangkan akibatnya.


Saya juga manusia yang tidak bisa memberikan jalan keluar terjamin, tapi saya menawarkan sebuah solusi. Belajarlah setia. Setia pada pasanganmu saat ini, jika memang kamu sudah mendapatkannya. Dan bagi yang belum, setialah dalam masa penantianmu. Sampai akhirnya kamu menemukan pasangan yang terbaik. Jangan membiarkan pengalaman-pengalaman yang kamu buat sendiri, yang melukai dirimu.


December 09, 2009

Harapan


Jangan cuma berharap

Semua manusia tentu punya masalah. Dan kita patut bersyukur kalau sampai hari ini kita masih harus dihadapkan dengan berbagai masalah. Karena masalah adalah bukti nyata bahwa Anda hidup.

Dan saat masalah rasanya begitu berat, seakan tertutup jalan, tidak mampu terselesaikan dan mustahil untuk dihadapi, ada satu hal yang membuat kita tidak mau menyerah. Karena kita punya harapan.

Beberapa waktu lalu saya menuliskan bahwa kita harus percaya di kehidupan ini ada yang namanya harapan. Dan harapan adalah salah satu alasan yang membuat kita bertahan hidup.


Namun kini, kehidupan sedang memproses kita untuk tidak hanya berharap, melainkan menjadi harapan itu sendiri.

Bring hope and being the hope
Seturut waktunya berjalan, akhirnya kita mengerti bahwa life is so hard. Dan saat-saat seperti inilah kita harus mulai belajar menjadi pengharapan bagi yang lain. Karena, jika semua orang hanya bisa berharap lalu siapakah sang pengharapan itu?
Oleh karena itu, Anda lah yang harusnya memegang tahta pengharapan.

Mungkin dulu saya lebih sering berharap. Menjadi penunggu dan melihat bagaimana yang lain seolah-olah menyelamatkan saya dari berbagai masalah. Tetapi, sampai suatu hari saya merasa apa yang saya wish tidak terkabulkan. Berharap namun sampai akhirnya tidak terjadi keajaiban. Lalu saya menarik kesimpulan, I’ll be the one to make it better.

Impossible
Anda merasa menjadi harapan bagi orang lain merupakan hal yang sulit? Ya, tentu. Karena saya juga merasakan hal yang sama. Ada beban yang tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata. Bahkan rasanya mustahil.

Tapi good considered, kepada siapa lagi kita berharap kalau kita tidak bisa mengandalkan diri kita sendiri? Anda mungkin bertanya, siapa yang mau menaruh harapan pada diriku yang lemah ini? Dan saya berani menjawab, jika Anda sendiri tidak percaya pada kemampuan yang dianugerahkan kepada Anda, bagaimana kata harapan itu bisa muncul?


You’re so lucky!
Kamu beruntung, sampai pada waktunya kamu terpilih dan dipercayakan untuk menjadi harapan. Jangan merasa kecil hati dengan apa yang saat ini sedang dihadapi. Apa yang sedang Anda pergumulkan sehingga rasanya membatasi harapan yang harusnya bersinar melalui kehidupan Anda.

Dua hal yang sedang saya renungkan untuk menjadi pengharapan yang baik, jangan cengeng dan jangan manja. Jika Anda tertawa berarti itu normal.

Karena saat Anda melihat orang-orang yang dikasihi terluka hingga menangis, Anda sudah kuat. Kalau Anda juga cengeng, bagaimana bisa jadi harapan? Atau saat orang-orang di sekitar Anda merasa lemah dan nyaris menyerah, Anda tidak boleh manja dengan keadaan. Bangkit, kuatkan dan teguhkan hatimu, sebab kamulah harapan.

Di pandangan pribadi saya, jika semua orang menempatkan dirinya sebagai harapan, maka setidaknya kehidupan ini akan selangkah lebih baik.

November 05, 2009

Amnesia



Jangan hapus memori itu, sayang.

Ada beberapa hal yang sebaiknya kita tidak perlu tahu. Bukan masalah belum waktunya atau apa dampaknya, tapi saya berfikir untuk menutup mata dan telinga rapat – rapat itu jauh lebih baik. Seandainya ada obat amnesia, saya tertarik untuk menggunakannya.

Ada orang yang mendapat mimpi buruk, ada orang yang entah kenapa terus jatuh pada kesalahan yang sama, ada yang terikat dengan relationship, ada pula orang yang tidak bisa melupakan masa lalunya. Begitulah kehidupan. Bukan apa yang kuinginkan, namun itulah yang kulakukan.

Saya mengerti betapa menyiksanya dihantui masa lalu dengan mimpi buruk setiap malamnya. Tubuh ini sudah lelah, tapi pikiran masih terus bekerja. Itulah mengapa menutup mata saja belum menyelesaikan masalah. Melainkan jika dalam hati sudah beres, maka ada ketenangan yang menyejukan diri.

Ada kisah seseorang yang selalu jatuh pada kegagalan yang itu- itu saja. Ia tahu jika merokok itu tidak baik untuk kesehatan namun terus dilakukannya. Ada rasa hedon yang susah untuk dilepas. Tidak ada seorangpun yang tidak tahu narkoba itu jahat, namun akhirnya para pemakai begitu tersiksa untuk berhenti. Seorang teman saya menyesal karena tidak belajar saat menghadapi ulangan saat ujian, tapi ternyata ia tetap tidak belajar di ujian – ujian selanjutnya. Tidak berubah. Terulang di putaran yang sama. Berputar di satu titik yang akhirnya melukai diri sendiri.

Life, oh life.
Sekalipun di awal tulisan ini saya bilang, saya tertarik untuk menegak obat amnesia, dan jika itu ada, saya memutuskan untuk tidak meminumnya.

Dengan menghilangkan memori saya, sama saja berarti saya membuang beberapa eposide film yang diangkat dari kisah nyata saya sendiri. Based on true story! Walaupun masa – masa itu merupakan scene yang penuh dengan luka dan air mata, namun tanpa sadar itulah klimaks dari semuanya. Tidak ada satupun kejadian dalam kehidupan ini yang tidak berarti. Semuanya bermakna. Dan itu berharga.

Alasan kedua mengapa saya tidak mau meminum obat amnesia karena itu sama saja saya membohongi diri saya. Walaupun tidak enak, walupun saya pernah jatuh dan terluka dalam, walaupun saya pernah mengalami masa – masa susah karena terus terikat, walaupun saya pernah begitu hedon nyaris addicted dengan seseorang, walaupun saya pernah surrender, tapi inilah kehidupan saya. Dan saya tidak mau melupakan semua ini.

Saya bersyukur sudah melewati masa – masa kritis. Di titik ini, saya sadar saya tidak butuh obat amnesia itu. Kalau saya minum, itu menjadi tanda saya tidak belajar apa- apa dari kehidupan ini. Seorang teman saya berkata, “Life is only once, and it’s enough.”

Just do it

Lakukan atau tidak, tidak ada yang setengah – setengah.

Saya termasuk orang yang senang berbicara. Mengutarakan pendapat dengan kata – kata, sebisa mungkin menggunakan bahasa yang baik dan mudah dimengerti, sehingga pesan atau tujuan bisa disampaikan.

Namun hari – hari ini, saya belajar untuk tidak berbicara dengan kata – kata, tapi dengan perbuatan.

Setiap hari kita belajar. Tentu dengan buku yang mereka sebut jendela dunia. Setiap hari, tanpa sadar ilmu bertambah, baik pengetahuan maupun wawasan. Pikiran kita terus diasah. Otak kita dituntut untuk bisa terus bekerja dengan sehat supaya berproduksi dengan maksimal. Tiada hari tanpa membaca dan menulis. Entah yang bersifat fiksi maupun fakta. Oh, lelah rasanya.

Tapi kesimpulannya, itu hanyalah TEORI!

Saat ini saya rindu mengajak dirimu dan diriku sama – sama belajar tidak hanya dengan text book. Tapi harus studi kasus. Mungkin sering kita bergumam,”Ah, teorinya saya tahu. Tapi prakteknya susah.” Hal inilah yang mau saya kikis secara perlahan tapi pasti. Jangan hanya pandai dalam urusan rumus dan hitung menghitung, namun dalam memecahkan masalah kita harus berani mengambil keputusan. Bahkan menentukan solusi yang terbaik.

Nilai selanjutnya yang sedang saya pikirkan dan dilakukan, bahwa seringkali rencana hanya sekedar rencana. Di jurnal pribadi saya, tertulis jadwal yang cukup teratur entah secara harian, mingguan. Untuk program jangka pendek juga yang berskala panjang. Hampir dari semua aspek, saya atur di buku tersebut.

Contohnya kewajiban saya di sekolah, seperti tugas – tugas dan bahan ulangan. Jadwal belajar yang rutin. Jam olahraga. Menonton dvd. Mengembalikan buku. Janji dengan teman atau urusan keluarga. Waktunya menari bersama teman – teman. Mengurus pelayanan di Gereja hingga urusan wanita, sebut saja perawatan tubuh kawan - kawannya. Deadline menulis dan bla bla bla.

Kalau dibaca, semuanya perfecto amigos. Yang berarti sangatlah sempurna, sebab sudah dirancang dengan sistematis supaya setiap harinya berjalan dengan rapih dan yang paling penting, supaya tujuan kedepannya bisa tercapai! Tapi toh, walaupun sudah direncanakan dengan matang jadinya berantakan juga.

Alasannya sepele. Hanya karena emosi sesaat. Rasa malas, ngantuk dan capek. Atau waktu yang ditunda- tunda. Online yang no limit, hingga lupa waktu yang menghasilkan semua serba terburu – buru. Kesimpulannya, NOTHING TO DO!

Plan is just a plan.

Rencana hanyalah sekedar rencana yang sama sekali tidak berarti apa – apa kalau tidak dikerjakan.

Sekalipun bagus dan serapi apapun jadwal yang dibuat, kalau tidak dilaksanakan ya, tidak berdampak apa – apa dalam kehidupan kita. Sama saja dengan teori yang selama ini kita pelajari dalam dunia pendidikan. Saya harap kamu mengerti apa yang saya sampaikan.

Oleh karena itu, satu- satunya cara untuk tidak mengacaukan semua yang direncanakan adalah dengan JUST DO IT! Kita yang membuat rencana kehidupan kita sendiri. Kita pula yang mempunyai otoritas tertinggi dalam memilih prioritas yang harus dilakukan. Tentu logikanya, kita buat untuk tujuan yang paling-terbaik. Maka sudah sepatutnya, laksanakanlah rencana itu, lakukanlah atau tidak, sebab tidak ada yang setengah – setengah. Okay guys? :)



Love is Blind


LOVE IS BLIND, THAT’S ALL

I don’t care who you are and where are you from. I love you!

Memang cuma rasanya cinta yang rasanya tidak pernah habis untuk di nikmati, perasaan yang tidak pernah puas dan suatu hati yang tetap haus walau samudera telah diberi. Dan untuk ke sekian kali kita belajar dari sesuatu yang mereka sebut cinta.

Tidak jarang orang mengucapkan love is blind, dan memang itulah salah satu sifat cinta yang tidak bisa dipatahkan. Keajaiban dari cinta yang harus kita tahu bahwa cinta mampu membutakan segalanya. Memakai kacamata cinta sama saja itu berarti kita memandang tanpa mengharap balas. Menggelangkan cinta menjadi makna yang menyatukan dirimu dan dirinya untuk selamanya.

Oh, I was blinded by you
Hal wajar jika sihir cinta membuat kita lupa dengan yang namanya realita bahkan nyaris tidak bisa menerima kenyataan. Namun selalu saya ajarkan, untuk memandang segala sesuatunya dari positif. Biarlah cinta membutakan, karena cinta itu memang buta.

Cinta tidak memandang kamu dari golongan mana, latar belakangmu apa, darimana kamu asal, umur berapa, strata apa, benua apa, bagaimana fisikmu diciptakan, tidak perduli apa yang terjadi di masa lalumu, tidak butuh yang namanya alasan, yang ia tahu, ia mencintaimu. That’s all.

Cukup dengan cinta semua mampu dibayarkan. Enough. Bahkan terlalunya hingga hanya cinta yang mampu menajamkan hati yang tumpul. Menguatkan setiap raga yang terluka. Meneduhkan setiap pikiran yang berkecamuk. Mengapa cinta bisa seperti itu? Karena cinta tercipta untuk buta, dibuat untuk membutakan, dan berakibat dibutakan.

Oh, Love and love
Tenang saja teman. Sekalipun mungkin-saat-ini kamu belum bisa memutuskan siapa cintamu. Paling tidak siapakah cintamu, kemungkinan besar kamu belum menemukannya. Tapi itu bukan masalah. Sebab siapapun kamu dan apa yang telah kamu lakukan sebelumnya pada cinta, cinta tetaplah buta. ia buta supaya kamu bisa melihat indahnya mengasihi seseorang. Kesimpulannya, bersyukurlah karena cinta itu buta.

October 07, 2009

Last Story


Ada tiga hal yang bisa dipelajari dari relationship saya. Something stupid but still beautiful.

Perfect, addicted and obsessed.


Perfect

Dia seorang lelaki yang saya tidak tahu di mana kelemahannya. Dia yang terbaik, terlalunya sehingga saya tidak mampu melihat apa yang menjadi kekurangan dalam dirinya. Saya buta dengan apa yang mereka sebut kelemahan. Dia nyaris sempurna.

Itulah hal pertama yang menjadi awal dari relationship yang salah ini. Menganggap dirinya begitu sempurna. Padahal secara harafiah kita tahu tidak ada yang sempurna di dunia ini. Satupun, tidak ada. Semuanya pasti ada kekurangan. Segala sesuatu pasti ada yang rusaknya. Mungkin yang saya rasakan manis yang sekedar, dan ketika saya menemukan satu saja yang minus, hati saya terluka. Sekalipun saya tetap berusaha menganulirkannya. Tapi kini saya mencoba untuk tidak mengbohongi diri saya, dia tidak sempurna.


Addicted

I can’t life without him. I want to spend my life time with him. I want to walk beside him. I need him anymore, more and more.

Tahukah kamu,saat kamu mulai merasa seseorang begitu sempurna, tanpa disadari lama kelamaan kamu menjadi addicted dengan dirinya. Rasanya seperti kecanduan. Kamu mau terus dan terus bersamanya. Kamu ingin terus memandangi dirinya. Apapun yang ia lakukan akan tampak indah di hadapanmu. Hasratmu mulai tidak terbendung, sehingga kamu menantikannya setiap hari.

Ada rasa ketergantungan yang tak terhankan. Tidak bisa tergantikan jika bukan dengan dirinya langsung. Dan sejujurnya saya merasa candu akan dirinya.

Itulah pedang yang ditusukan olehnya dan sadisnya itu juga seijin diri sendiri, ngilu.


Obsessed

Lengkap sudah. Ini dampak yang terakhir dan rasanya terlalu sakit. Kamu akan mempunyai obsesi untuk melakukan segala cara agar bisa bersamanya. Kamu menjadi seorang manusia yang dibayang – bayangi oleh keinginan yang tak terhankan. Kamu terobsesi. Kamu bermimpi dan sadarkah kamu sedang tinggal bersama kenangan yang terlalu amat dalam.

I want to cry. This way is so hard for me. Saya mencoba untuk menampar diri saya sendiri. Saya mencoba untuk membangunkan diri saya bukan lagi dengan sebuah suara yang lembut, melainkan dengan teriakan dan sebuah tabrakan yang menjatuhkan saya yang sedang terbuai di alam entah berantah.

Kamu akan lupa dengan yang namanya realita. Kamu lupa tujuannya logika diciptakan. Kamu menjadi tidak realities. Kamu tidak lagi berpijak di kenyataan melainkan sekedar imajinasi. Kamu menggunakan hatimu, bukan dengan akal sehatmu. Kamu menjadi gamang dan hanya berjalan dengan apa yang nyatanya hanyalah sekedar impian, mimpi bahkan ternyata sebuah harapan hampa.

Ini bukan masalah cinta yang tidak terbalaskan. Apalagi kalau dikatakan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Tentu tidak, sayang. Tapi mungkin lebih baik jika disebut dengan kisah yang salah. Kami salah, saya dan dirinya salah, entahlah apa dia menyalahkan dirinya, tapi saat ini saya berani mengatakan ini juga menjadi kesalahannya.

Saya berjanji untuk masa depan saya, saya mau meninggalkan cerita saya dengan dia. Saya tidak bisa dan tidak mau lagi bertahan dengan cinta yang terasa pahit. Saya tidak kuat untuk merasa tidak diakui. Saya begitu terluka menjadi kekasih yang tak teranggap. Saya hanya ingin berjalan maju, dengan sesuatu yang pasti. Persetan dengan yang disebut hawa nafsu. Itu hanyalah hal yang fana dan sementara. Terlalu murah jika saya menukarkan semua yang saya kasihi, semua yang saya perjuangkan, semua yang membentuk saya menjadi pribadi seperti ini dengan seseorang yang nyaris sempurna.

Maafkan saya yang berkata kasar. Dan saya sama sekali tidak mengajarkan yang lainnya untuk membenci atau meninggalkan yang disayangi begitu saja. Tapi satu hal yang kerap kali saya ingatkan untuk kamu dan saya, life must go on.

Tidak ada yang sempurna, jangan menjadi candu, dan tidak ada kata obsesi dalam cinta.

September 15, 2009

Putus


Better that we break

Saat ini saya mencoba untuk menuliskan cerita relationship saya. Saya berusaha untuk menjawab beberapa pertanyaan logis yang ditanyakan beberapa teman dekat saya. Tapi jika ada yang bertanya “Bagaimana dengan komitmenmu ?” Sejujurnya itu agak sulit untuk saya jelaskan.

Namun inilah kenyataannya. Saya cheating. Di satu sisi saya masih terus dan sedang menyelesaikan komitmen saya, tapi saya pura – pura tidak sadar bahwa sedang in a relationship dengan seseorang. Selama dua tahun, dengan seorang teman lama saya. Apakah itu bisa terjadi ? Tentu, tidak ada yang tidak mungkin.


They called it love, but I say it lust.
Agak sadis jika saya bilang relationship ini saya terjadi berdasarkan lust. Tapi dengan perasaan yang sangat sedih, saya harus mengakuinya. Jika kamu memperhatikan tulisan saya di awal pertama kali saya membuat blog, ada kalimat yang tertulis bahwa hubungan ini dimulai bukan atas dasar cinta apalagi komitmen.

Pada awalnya pun saya mencoba membohongi diri dengan membuat suggesty, sebenarnya ini cerita cinta yang terbatas dengan waktu dan dunia yang memang berbeda. Saya berkata demikian, karena selama saya hidup saya belum pernah mendengar ada orang lain yang berani membuat relationship tanpa komitmen, tanpa status dan tanpa pengakuan. Sama sekali tidak ada ikatan. Kata kasarnya, jika terjadi apa – apa, tidak ada yang bisa saling menuntut.

Entah karena hebatnya saya dalam urusan love, sex and dating atau karena betapa bodohnya, akhirnya saya menjalin hubungan seperti itu.


Who is he?
Pacar bukan, kekasih bukan, mantan bukan, teman dekat juga tidak. Lalu siapakah dia ? Complicated. Hanya hati kami masing – masing yang tahu dan bisa menentukan.

Yang pasti bagi saya dia tipe seorang pejuang, dia tidak pernah menyerah, dia bisa bangkit dari keterpurukan, dia statis, sifatnya keras namun berhati lembut, dia menarik, dia tidak perduli apa kata orang sebab dia bisa membuktikan dengan caranya sendiri dia bisa berhasil, dia mampu, dia mengajarkan apa artinya belajar, dia mempunyai idealism, cara pandang yang saya kagumi, dia pria masa depan yang baik, tetapi satu hal yang dia tidak memegang prinsip kekudusan.



What are you doing with him?
You touched my heart you touched my soul.
You changed my life and all my goals.
And love is blind and that I knew when.
My heart was blinded by you.

I’ve kissed your lips and held your head.
Shared your dreams and shared your bed.
I know you well, I know your smell.
I’ve been addicted to you.

Goodbye my lover by James Blunt.



So, what is the problem?
Saya juga tidak mau mengatakan ini perasaan cinta. Terlalu mudah dan tidak segampang itu untuk menyimpulkannya. Tapi saya mengasihinya. Menjadi sebuah pengakuan kalau sejak 6 tahun nama itu sudah ditaruh di hati saya, lalu saya mulai berdoa untuknya. Namun beberapa tahun terakhir ini saya berdoa agar bisa meninggalkannya.

Saya berfikir begitu sayangnya hubungan kami dipersatukan karena lust. Saya pernah menyinggung masalah ini dengannya, ia menjawab mungkin ini takdir.

Memulainya saja sudah sebuah kesalahan. Saya lebih salah karena tidak mau menegaskan apa yang sebenarnya terjadi. Saya tidak berani. Saya takut jika saya bertanya maka ia pergi. Padahal saya senang bisa berada di sampingnya. Begitu seterusnya, saya seolah – olah tidak mau tahu apa yang mengikat kami berdua yang saya tahu kami berusaha untuk menyenangkan diri masing – masing dengan satu cara yang orang bilang itu begitu fana.

Saya juga tidak bisa berbicara banyak tentang pandangannya. Karena sejujurnya saya tidak tahu apa – apa tentangnya. Sebaliknya dia tidak tahu apa – apa tentang saya. Dia menjadi kepunyaan saya di waktu itu, juga saya miliknya di saat itu. Tapi tidak ada kelanjutan ceritanya. Hanya akan bersambung di pertemuan selanjutnya, sampai ada salah satu di antara kami yang meminta sebuah invitation. Ah. Hati saya terluka ketika sadar begitu sakitnya hubungan ini.



Hm, How about your commitment?
Itulah yang meresahkan saya. Seseorang menegur saya dengan melemparkan cermin yang saya buat sendiri. Saya yang bersusah payah membangun komitmen, saya juga yang menghancurkannya. I am surrender. I am give up. Saya merasa terpuruk dengan judge yang demikian. Saya begitu desperate, mau marah tidak bisa, mau menangis juga menjadi sia – sia. Saya melukai diri saya sendiri.

Tapi yang saya tahu life must go on. Saya harus menjalani komitmen saya, bersama atau lebih baik tanpa dirinya. Saya tahu saya membuat kesalahan fatal dengan apa yang pernah kami lakukan. Tapi saya lebih salah jika bertahan dengan relationship seperti ini.

Maka itu saya memutuskan untuk putus. Saya tidak tahu apa yang ia rasakan jika saya menyatakan untuk meninggalkan relationship ini. Saya pikir dia akan baik – baik saja. Sebab dari awal memang ini terbangun tanpa ikatan formal. Saya pun tidak perlu datang menghampirinya untuk mengatakan saya mundur, putus atau kata - kata seperti pasangan kebanyakan. Sebab yang mengikatnya hanya lust, mungkin ada love.

Dan satu hal terpenting yang sebenarnya menjadi puncak masalahnya yaitu karena saya memiliki semua miliknya, namun tidak hatinya. Saya tidak mau bercerita lebih lanjut tentang apa yang sebenarnya terjadi antara saya dan dirinya sampai pada terakhir kami bertemu, tapi melalui tulisan ini saya hanya ingin berbagi betapa bahagianya jika Anda berani untuk memutuskan ikatan yang selama ini mengekang Anda.



What is your best sentence about this relationship?
Finish it! Because better that we break.

Kekudusan


Aku menjaga kekudusanku karena aku mengasihimu

Saya bukanlah tukang sulap, yang punya sejuta kata sihir untuk membuat gadis pujaan Anda jatuh hati. Saya juga bukan seorang psikolog, yang punya buku dengan seribu satu cara untuk menaklukan hati seorang wanita. Namun sebagai teman yang perduli, saya punya satu cara benar untuk membuktikan arti cinta yang sesungguhnya.

Dengan menjaga kekudusanmu !


Harta bisa menghibur duka, kegagahan bisa membutakan mata namun hanya kekudusan yang bisa menaklukan hati.

Saya seorang wanita. Saya mendambakan seorang pria yang bisa memberikan segalanya untuk saya. Apapun yang saya inginkan, apapun yang saya katakan. Namun saya jauh berbangga hati, jika di hadapan Altar Kudus nanti, dirinya bisa mempersembahkan yang terbaik untuk saya, yaitu kekudusannya. Sebab kekudusan, tidak ternilai harganya. Itu berharga. Itu tidak tergantikan. Itu yag terbaik. Itu yang terutama. Itu segalanya. Itu yang terpenting.

Sekalipun segala sesuatu butuh uang, tapi uang bukanlah segalanya. Membangun relationship untuk bisa sampai ke rumah tangga tentu butuh uang, agar kita bisa menghidupi keluarga. Uang menjadi modal untuk hidup. Tapi sesungguhnya bukanlah uang, melainkan kekudusan adalah pondasi paling dasar dalam membentuk rumah tangga yang berkenan di hadapan Tuhan dan kemuliaan di mata manusia.

Apa artinya uang yang berlimpah tapi ternyata sudah tidak kudus ? Anda harus tahu, kalaupun Anda kaya raya tapi jika tidak ada kekudusan di hubungan suami isteri, maka tidak ada sejahtera. Kalau kekudusan sudah menjadi prinsip utama, maka secara bersamaan keuangan juga diberkati. Ini merupakan prinsip yang baik kalau Anda percaya hartamu tidak bisa membeli kekudusan. Semuanya bisa ditukar dengan uang, tapi tidak untuk kekudusan. Ia tidak ternilai harganya. Maka kekudusan lebih berharga daripada harta.

Siapa yang tidak senang mendapatkan pasangan hidup yang tampan, gagah, anggun dan bisa dikagumi banyak orang ? Mempunyai kepribadian yang baik, ramah dan sopan santun, penuh tata krama dan berwibawa. Tapi jika tanpa kekudusan, semua hal itu tidak berarti. Jika pasangan Anda belajar hidup kudus, saya pikir itu sudah menjadi aspek yang harusnya jauh lebih diperhitungkan daripada kriteria kepribadian lainnya.

Bagi saya kekudusan lebih penting dibandingkan attitude dan perilaku yang benar. Kelakuan seseorang itu bisa dibentuk dalam sehari. Manusia pada dasarnya pandai untuk menjadi orang lain, ahli menutupi kekurangan dirinya sendiri dan bisa memakai topeng supaya mendapatkan yang ia inginkan. Namun menemukan orang yang kudus sangatlah sulit. Sebab kekudusan hanya bisa dicapai dengan proses, yang pastinya tidak mudah, butuh waktu lama dan pengorbanan. Kudus bukanlah abu – abu. Ia akan tampak putih bersinar atau hitam pekat.

Tidak gampang menemukan orang yang bertahan dengan prinsip kekudusan di jaman sekarang ini. Banyaknya godaan dan tantangan, begitu bebasnya pergaulan, gaya berpacaran yang diluar norma, relationship yang tanpa status dan komitmen yang sungguh – sungguh, membuat celah untuk berdosa semakin besar. Artinya makin bertambah sulitlah menjaga kekudusan.

Anda bisa merasakan gengsinya anak muda, perasaan malu, ditekan dan dilecehkan, dikucilkan, dicemooh, dibilang kuper, batasan – batasan yang menyiksa, lebih – lebih hawa nafsu yang timbul dari gejolak masa muda. Oh, sakit untuk bisa bertahan dengan kekudusan.

Tapi saya berjanji suatu saat nanti, saya mampu berkata,”Aku menjaga kekudusanku karena aku mengasihimu.”

September 11, 2009

Pernikahan Dini


Apakah perasaan mabuk kepayang itu cukup kuat dijadikan dasar untuk membangun cinta yang abadi ?

Saya kecewa saat mengetahui teman dekat saya memutuskan untuk melakukan pernikahan dini. Bahkan saya sangat kecewa karena alasan mereka menikah karena telah melakukan kesalahan sebelumnya. Saya tidak sampai hati untuk menyebutkannya, namun saya percaya Anda mengerti apa yang menjadi penyebab mengapa sepasang muda harus dinikahkan sesegera mungkin.

Sebagai seorang remaja yang mempunyai idealism tentang relationship, saya merasa sedih peristiwa ini harus terjadi pada teman – teman dekat saya. Sebab saya mengenal keduanya. Baik yang lelaki dan perempuan. Selama ini pun, saya bersama teman lainnya merasa mereka berdua adalah pasangan ideal dan menuju kedewasaan. Tapi inilah yang harus terjadi.

Siapa yang salah ?
"Jangan tanya kenapa. Saya juga tidak tahu.” Ini kalimat yang biasanya saya ucapkan saat saya menghadapi masalah yang saya tidak tahu solusinya. Maka itu, ketika keluarga dan kerabat membahas siapa yang salah dalam kasus ini saya cuma bisa berkata demikian.

Sebab married by accident merupakan masalah complex yang tidak bisa disalahkan satu pihak saja. Kita harus bisa melihat dari semua aspek. Semua unsure yang terkandung, lingkungan, agama, pergaulan, keluarga dan kembali dengan pandangan hidup mereka berdua.

Hanya ada satu hal yang sangat mengganggu pikiran saya, mengapa harus mereka. Saya tidak habis pikir, selama ini saya mampu bertahan dengan beberapa standar dalam urusan relationship, saya bisa memberikan persuasive agar beberapa orang lain, yang bisa dikatakan tidak punya ikatan apa - apa dengan saya, bisa kuat dalam kekudusan relationship, saya bisa berteriak pada orang yang jauh untuk tetap bertahan dengan nilai – nilai agama yang dipegang, tapi kenapa harus dia yang hamil di luar nikah. Saya merasa begitu terpukul.

Saya tidak mau menghakimi mereka. Namun melalui kejadian ini, saya seperti di tegur, ke mana saja saya selama ini. Begitu sibukkah saya sehingga saya lupa dengan teman yang sudah ada di ujung jurang. Orang lain bisa saya tolong, tapi mengapa mereka yang teman saya sendiri, tangan saya tak mampu mencegahnya. Oh, begitulah jika Tuhan berkehendak lain.

Tidak selamanya cinta itu merah muda, bisa saja berwarna hitam
Sahabat saya menyampaikan beberapa statement yang dikeluarkan dari mereka berdua. Jujur saja, sampai hari ini saya belum bisa berkomunikasi langsung dengannya, masih ada beberapa halangan. Sahabat saya berkata, kalau mereka berdua memang sudah berencana untuk membawa relationship mereka menuju pernikahan. Tahun depan, ujarnya.

Nafas saya terasa terhenti mendengar berita itu. Saya tahu mereka berdua saling sayang, saling mendukung dan menguatkan. Saling melengkapi, menutupi dan memuliakan. Bahkan cintanya terlalu dalam dan amat besarnya kah ! Tapi cinta saja tidak cukup ! Apakah mereka tidak sadar, cinta bukanlah modal utama dalam membangun rumah tangga.

Mereka masih sangat muda. Lelaki baru berumur 20an, dan yang perempuan umur 18 tahun. Ah, masih terlalu banyak yang harus mereka kejar. Masa seperti merekalah saatnya mereka memaksimalkan setiap potensi yang ada. Saat yang begitu tepat untuk mereka mencari jati diri, membangun relationship dengan begitu banyak orang. Waktu yang masih sangat bebas untuk mengenal Tuhan. Berusaha untuk mencapai tingkat pendidikan, demi mempersiapkan masa depan yang begitu luar biasa. Tapi kini mereka telah memutuskan untuk mengikatkan diri dengan beban sebagai suami dan isteri.

Mereka harus tahu, tidak semudah itu untuk menukarkan kebahagiaan masa muda yang sesungguhnya dengan pernikahan dini. Hanya karena cinta, gejolak masa anak muda, rasa mabuk kepayang dan perasaan yang diluar kontroll, sehingga masa depan harus dikorbankan. Mereka harus tahu, betapa kecewanya teman – teman terlebih keluarga, karena mereka melakukan yang tak seharusnya dilakukan. Mereka harus tahu, kami menaruh harapan besar, percaya mereka bisa berhasil, mendoakan yang terbaik dari mereka. Ah, seandainya mereka tahu.


September 03, 2009

Still him


They called it Love. But the others said it Lust.


Siapa yang bilang mustahil punya relationship tanpa status dan pengakuan ? I did it !

Dengan kesibukan kami masing – masing, segala kegiatan yang membuat kami jadi tidak bisa bertemu, sampai beberapa rules dan paham yang mempengaruhi untuk tidak akan pernah berjumpa lagi, saya harus mengakui saya memperjuangkannya, hanya untuk bersama dia.

Entah perasaan apa yang merasuki saya hari ini. Saya hanya ingin bertemu dengannya. Namun inilah pilihan yang mungkin- agak sulit untuk ditinggalkan. Bertemu tanpa melakukannya. Itu sudah seperti paket yang tidak bisa dipisah. Jika tidak mau bermain, maka jangan bertemu. Jika memang mau bertemu, harus siap bermain.

Saya tidak mau mengatakan bahwa saya menyukainya. Karena saya benci untuk ditolak. Saya sadar dia bukan kapasitas saya, begitu pula dia yang sebenarnya bukan berasal dari dunia saya. Lalu apa yang harus saya lakukan ? Lagi – lagi saya harus bertanya pada hati saya yang paling dalam, mempertahankannya atau mengakhiri semua ini.

Selanjutnya hanyalah sebuah kalimat sama yang terjawab dari hati. Saya ingin mengakhirinya. Jika Anda ingin tahu mengapa ? Karena saya tidak mau terluka, lagi.

Terserahlah dengan pendapat orang yang berkata kalau tidak apa – apa menderita, asalkan melihat orang yang kita sayang bahagia. Oh, itu sangat bullshit. Munafik, brengsek dan muka dua !

Anda mau bilang saya egois ? Silahkan ! Namun inilah saya. Cuma hati yang paling jujur. Kini hati saya berkata kalau ia sedang terluka. Sakit. Apalagi jika orang yang kita maksud itu bersama dengan yang lain. Come on ! What the hell ! Saya sangat marah, kecewa. Hanya orang yang gila, kalau ia tidak merasa sakit.

Saya tidak rela jika ia memilih perempuan itu. Saya begitu kecewa jika ia bertahan dengan perempuan yang berasal dari masa lalunya. Sebab saya berkorban meninggalkan seseorang sebelumnya, demi dia. Jika ia masih tetap menyukai perempuan itu ? Saya bisa hancur.

What should I do ? Saya sangat tahu dengan rasa menderitanya hati ini. Saya membendung perasaan yang begitu dalam. Namun apa daya, mulut saya tidak bisa menyampaikan apa yang sebenarnya. Saya bisa marah dengan semua orang. Saya bisa mengeluarkan kata – kata tajam untuk menjatuhkan orang lain. Saya bisa mengeluarkan statement untuk mematahkan pendapat lawan. Saya punya keahlian untuk menyambung lidah dalam menyelesaikan permasalahan. Saya berani untuk berkata iya dan tidak. Saya bisa mengatakannya, namun bukan kepada dia.

Hanya melalui bahasa tubuh, sebagai tanda saya membutuhkannya lebih dari tubuh yang memuaskan hasrat. Saya mengingikan sesuatu dari hatinya. Bukan hanya yang kelihatan, sungguh dari dalam – kedalaman pikirannya, yang membuatnya tampak di luar. Mungkin baginya, tubuh saya sudah menjadi miliknya. Tapi ia harus tahu, bahwa hati saya pun menjadi kepunyaannya.

Seseorang pernah memberikan saya advise untuk bisa bersikap professional. Dia menguatkan saya untuk bisa menentukan bagaimana seharusnya saya bersikap. Saya harus kembali ke jalurnya. Membatasi segala yang boleh saya berikan atau yang harus saya keep. Bagian mana yang boleh disentuhnya atau bagian mana yang tidak boleh menjadi hambanya.

Jawab saya,”Jika itu bukan dia, saya bisa bermain dengan logika. Saya bisa menghentikannya. Namun ini karena dia. Dia berbeda!

Walaupun ini menjadi memalukan bagi seorang seperti saya, tapi inilah yang terjadi. Dirinya telah menyentuh bagian paling fatal. Hati. Saya pun bodoh, tidak bisa menjaga hati saya dengan baik. Lalu hancur lah semua yang saya pertahankan.

Ini yang teramat sakit. Berpura - pura dihadapannya, seolah - olah saya baik - baik saja. "Tidak ada sebuah pelukan tanpa perasaan." Mungkin kalimat ini yang bisa menyimpulkan semua perasaan saya.

Someday. Ia akan merasakan apa yang saya rasakan. Betapa menyiksanya mempunyai rasa tanpa diakui. Betapa berat menjalani relationship tanpa pengakuan. Terlalu sakit, memberikan hati yang ternyata tanpa ia mengetahuinya. Oh.

August 29, 2009

Waiting



Don’t wait for me, but wait with me!

Sebagian besar dari kita benci untuk namanya menunggu. Kita merasa menunggu itu membosankan, jenuh, wasting time. Apalagi kalau yang kita tunggu tak kunjung datang. Rasanya mau marah tapi tidak bisa. Berjanji akan datang tepat waktu, tapi ternyata terlambat.

Lebih dari itu. Bagaimana jika saya mengajak Anda untuk menunggu seseorang yang belum pernah Anda temui dan tidak tahu waktunya kapan ia akan datang. Bersediakah Anda ?


*Tulisan ini saya buat untuk didedikasikan, kepada setiap pribadi yang memutuskan dan bertahan dalam sebuah masa penantian.


Setelah saya membangun beberapa kali hubungan khusus dengan seorang pria, dan saya hanya mendapatkan yang sia – sia, maka saya memutuskan untuk melakukan sebuah penantian.

Penantian untuk kedatangan seseorang yang saya belum tahu siapa dan di mana dirinya saat ini dan sampai kapan saya harus menunggu.


Yang saya tahu, bukan dia yang mendatangi saya. Dan juga bukanlah saya yang berusaha untuk menemukannya. Melainkan waktu yang seijin Tuhan yang mampu mempertemukan saya dengan dirinya.


Seorang Misionaris pernah berkata demikian pada saya. “Relationship kita dengan pasangan seperti segitiga sama sisi. Kamu berada di ujung yang kiri, dan ia berada di ujung kanan. Lalu sama – sama ditarik garis lurus, maka kalian akan bertemu di satu titik yang seimbang.”



CHANCE
Saya ingin membagikan sebuah paradigm baru dalam membuat sebuah relationship. Yakni jika saat ini Anda belum mengikatkan diri pada sebuah pernikahan, itu berarti Anda diberikan kesempatan untuk mempersiapkan diri dengan sebaik – baiknya.

Hari – hari yang saat ini sedang kita jalani saat iini sebagai seorang single life, agar kita bisa memaksimalkan apa yang ada diri kita, mengembangkannya menjadi sebuah investasi masa depan, menjadi sebuah harapan, sandaran, kekuatan dan kebahagiaan bagi pasangan yang sebenarnya telah ditentukan Tuhan.

Percaya atau tidak, pasangan Anda pun sedang di persiapkan Tuhan juga, khusus untuk Anda.


TRUST ME
Memang tidak mudah. Adapun yang beranggapan, asumsi ini hanyalah sekedar imajinasi. Tapi saya mau katakan, ini lambang dari doa dan permohonan, yang benar – benar dari lubuh hati Anda. Sejak hari ini, lakukanlah segala sesuatunya seperti Anda melakukannya untuk kekasih Anda, meskipun Anda belum bertemu, percayalah dialah kepunyaan Anda !

Anda tidak perlu menunggu beberapa bulan atau bertahun – tahun lagi untuk mengungkapkan rasa sayang Anda, karena saat ini Anda saja belum melihatnya. Tetapi sekarang pun Anda sudah bisa melakukan sesuatu sebagai lambang betapa Anda mendambakannya, menginginkannya dan menyayanginya.

Dengan cara apa ? Lakukan segala sesuatunya, dengan dasar karena Anda mengasihinya. Anda tidak perlu berfikir untuk menyesal, karena dia tidak mengetahui apa yang telah Anda korbankan saat ini. Tenang saja, merupakan suatu kejutan termanis, ketika suatu saat nanti, di waktu yang terbaik, dia tahu Anda telah belajar untuk mengasihinya, meskipun belum bertemu. Itu berarti, Anda mengasihinya dengan segenap hidup Anda. Inilah perjuangan yang sesungguhnya dalam menemukan cinta sejati.



Menunggu bukan berarti tidak melakukan apa – apa. Tapi jika Anda memutuskan untuk masuk dalam masa penantian, itu artinya Anda memutuskan untuk mulai belajar mengasihi calon pasangan Anda seumur hidup, sebelum Anda bertemu dengannya.



I knew I loved you, before I meet you – savage garden

August 19, 2009

The day after Freedom


Don’t ever look back !

Kita tahu bersama, yang paling sering dibicarakan khalayak ramai ialah mengenai peringatan kemerdekaan Negara. Lalu apakah saya akan membahas tentang sejarah dan pahlawan saat ini ? tentu tidak! Saya memaknai kemerdekaan dengan menuliskan dari sudut pandang love and relationship.


Perbedaan

Perbedaan makna kemerdekaan bagi sebuah Negara dan relationship terletak pada masa lalu nya. Sebagai masyarakat Negara yang baik, kita harus bisa menghargai setiap jasa para pahlawan. Tanpa mereka, kita terus dijajah.

Tetapi ini berbeda jika dikaitkan dengan idealism relationship. Satu kalimat yang seringkali menguatkan saya agar tidak mundur ialah, Don’t ever look back! Apapun yang terjadi, Don’t ever look back! Whatever they say, cuma ada satu kalimat di otak saya, Don’t ever look back !

Sebagai seorang yang sedang menjalani single life, saya merasa sudah ‘merdeka’ Karena berhasil memutuskan hubungan dengan masa lalu saya, dan oleh karena itu saya memaksa diri saya untuk tidak menoleh ke belakang.

Yang saya tahu, kita tidak akan pernah bisa berlari untuk sampai di hari esok yang penuh dengan keajaiban, jika hari ini masih membawa beban yang berasal dari beberapa bulan yang lalu, bahkan tahun sebelumnya.


Freedom is not cheap

Ribuan bahkan jutaan pahlawan merelakan segalanya untuk kemerdekaan. Padahal kalau dipikir rasa merdeka itu tidak bisa dinikmati sepenuhnya. Entah karena sudah gugur di medan perang atau masa hidup yang memang sudah berakhir.

Begitu pula dengan makna merdeka, bebas, freedom dari masa lalu.

Banyak hal yang telah diperjuangkan bahkan dikorbankan, agar kita bisa berani mengambil keputusan untuk berdiri sendiri. Bahkan kita harus bisa berteriak dengan kuat, kita sudah memerdekaan diri dari masa lalu. Sekalipun hati masih sayang, tapi realita memaksa kita harus terus maju.

Maka saya membuat suatu kesimpulan, kemerdekaan (freedom) : bebas, mempunyai arti demikian, setiap manusia punya hak untuk maju, meninggalkan masa lalunya dan tidak menoleh ke belakang.

Kalau saat ini kita sudah merasa bebas dari rasa takut, gusar, kecaman, rasa tertuduh, rasa bersalah dan perasaan yang menekan kita karena sebuah relationship di masa lalu, harusnya kita terus bisa mengingat akan makna perjuangan tsb.

Sehingga kita tidak menyia – siakan merdeka yang mahal itu. Saya juga ingin Anda memegang nilai, kalau merdeka itu mahal.

Anda tidak perlu tahu apa yang terjadi dengan mantan Anda sebelumnya. Sebab kita sudah merdeka, sudah diputuskan. Tidak perlu rasa dendam. Bayangkan 350th Indonesia dijajah Belanda, namun tidak ada serangan balasan yang dilakukan Indonesia.

Jadi saya mengajak, akhiri saja rasa geram, amarah pada orang – orang yang ada di masa Anda sebelumnya. Kalau hanya karena hal – hal sepele seperti ini Anda harus menoleh ke belakang, terlalu murah bahkan bodoh sekali Anda.

Life must go on. Apapun yang terjadi. We are freedom! And life must go on.

August 18, 2009

Tabur Tuai


Mengapa ada cinta yang bertepuk sebelah tangan ? Karena cinta tidak mengenal hukum tabur tuai.

Kalau saya membahas hukum tabur tuai dalam kehidupan, pasti kita akan langsung berfikir tentang masa depan, pekerjaan, dosa, karma dst. Bagaimana jika kita menempatkan tabur tuai sebagai filter dalam pembahasan relationship kali ini ? cukup unik, saya pikir.

Sayangnya, hukum tabur tuai dalam relationship bertolak belakang.

Hukum alam mengatakan, semakin banyak menabur, semakin banyak yang akan dituai. Semakin kita mencintai banyak orang, semakin banyak orang yang mencintai kita. Itu dampaknya. Ini prinsip jika kita memandang cinta sebagai subjek.

Bagaimana kalau kita memandang cinta sebagai objek ? Kira – kira akan menjadi seperti ini. Semakin banyak menabur, semakin banyak yang akan dituai. Artinya semakin banyak kita mencintai dia, semakian banyak juga dia mencintai kita.

Perbedaanya adalah statement pertama, subjek nya banyak, tapi kualitas dari setiap individu meragukan. Kurang full ! Sedangkan di statement kedua, subjeknya hanya satu, tapi terkesan jauh lebih dalam.

Kesimpulannya love juga tentang kualitas dan kuantitas. Terserah anda memilih yang mana. Karena saya juga punya beberapa pertimbangan tertentu, kepada siapa dan apa saya meningkatkan kuantitas bahkan kualitas relationship saya.
Ada saatnya saya mengambil hati saya untuk dibagikan kepada banyak orang, namun ada juga masa nya, saya memutuskan untuk memenggal hati saya untuk seseorang.

If life is not fair
Sekarang prinsip tabur tuai ini kita masukan ke dalam relationship yang bersifat dua arah.

Sebab harus kita sepakati bersama, saat ini kata ‘relationship’ yang saya maksudkan akan bertujuan pada kesatuan yang abadi. Yaitu menikah. Saya sering mengatakan Anda tidak perlu membangun relationship secara khusus pada seseorang, jika Anda belum siap untuk memikirkan pernikahan. Sebab tujuan kita membuat sebuah relationship untuk sesuatu yang kekal, bukan untuk tujuan yang fana/ sementara.

Agak berat untuk menerima kenyataan, bahwa hukum tabur tuai tidak berlaku dalam relationship yang seperti ini. Contohnya apa ? Mm, belum tentu orang yang Anda sayangi, yang sudah begitu banyak Anda korbankan demi dia, juga akan melakukan hal yang sama. Boro – boro membayar apa yang telah Anda lakukan. Membalas atau menerima saja belum tentu pasti bisa. Setiap orang berhak untuk confirm atau ignore, bahkan me remove kehadiran orang lain di kehidupannya.

Maka itu terciptalah sebuah kata klasik, cinta yang bertepuk sebelah tangan.

Saya menulis artikel ini bukan untuk melemakan Anda. Tidak. Ini sekedar wacana, bahwa begitu banyak idealism untuk mengungkapkan sebuah perasaan yang disebut cinta.
Banyak sifat yang kita pelajari dari cinta. Tapi banyak pandangan yang harus kita tahu sebelum memutuskan untuk jatuh cinta.

July 25, 2009

something stupid about love


Cinta itu sempurna, tetapi bisa saja berlaku bodoh

Cinta itu indah. Cinta itu mempesona. Cinta itu menenangkan. Memberikan rasa aman, memberikan kesungguhan, menyejukan rasa gusar, memeluk dengan ketulusan.

Namun kadang ada juga kebodohan yang dilakukan dan terjadi pada cinta. Entah cinta ini sebagai subjek atau objek. Dengan berat hati saya harus katakan bahwa kadang cinta menjadi sebuah kebodohan.

Ada 3 hal kebodohan cinta, dan mungkin ini yang sedang kita alami. Yakni membandingkan, mengharapkan dan memperjuangkan hubungan yang aman.

- Membandingkan (compare)

Jujur saja, tanpa sadar saya pernah bersikap seperti ini. Membandingkan seseorang yang dikasihi. Membandingkannya bisa saja dengan masa lalu saya atau membandingkan dengan beberapa perhitungan saya secara logika. Padahal kita tahu bersama, cinta dan logika bertolak belakang, namun kita harus berusaha untuk menyelaraskannya.

Saya berharap, Anda dan saya mulai hari ini sama – sama belajar untuk tidak membandingkan kekasih kita dengan ‘siapapun’ dan juga ‘apapun’. Memang menilai pasangan haruslah lebih baik dari sebelumnya, tapi untuk namanya cinta, it always be the best. Bukan karena dibandingkan. Namun karena cinta tidak pernah kalah.


- Mengharapkan

Sakit dan bodoh. Saya pikir itu adalah dua kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan saat kira mengharapkan sesuatu dari cinta.


Pertamanya saya menganggap, mengharapkan adalah sebuah kata kerja yang bersifat positif dan juga membangun. Namun setelah saya mengalami sendiri, serta jika kita pandang dari sisi relationship, saya harus katakan mengharapkan juga menjadi sebuah kebodohan cinta.

Mungkin Anda berfikir, ini tentang menunggu atau sebuah penantian. Tidak! Melainkan mengharapkan dongeng menjadi realita. Anda harus bijak dalam memandang ‘mengharapkan’


Ini mungkin terjadi, saat Anda memilih seseorang bahwa dialah yang terbaik, padahal ada kemungkinan bahwa Anda bukanlah yang terbaik buat dirinya.


Me and my best man

Saya pernah ‘mengharapkan’ dalam sebuah relationship dan itu bukan untuk waktu yang sebentar, beberapa tahun sudah saya mengharapkan. Akhirnya saya sadar bahwa itu menyakiti perasaan saya sendiri, tetapi saya percaya miracle bisa terjadi dua kali.


- Memperjuangkan hubungan yang aman

Adalah hal yang normal jika kita mau relationship berjalan tanpa halangan, tidak ada problema, komunikasi selalu lancar, bisa saling mengampuni dan menguatkan. Setiap orang selalu berharap sekali membuat komitmen, berkenalan, langsung cocok dan saling suka, bertunangan, lalu menikah, punya keluarga yang bahagia dan happily ever after.

Wow. Indah sekali dunia ini !


Tapi kalau kehidupan love and relationship kita selalu berada digaris aman, rasanya cinta sama sekali tidak berharga.


Saya bukannya mengajak Anda dengan sengaja mengundang masalah untuk menguji relationship, sebab saya tahu, sedangkan kita diam saja sudah bisa jadi ada masalah. Tapi saya mau, Anda membiarkan cinta memegang penanya sendiri.


Bagaimana Anda tahu cinta bisa menyembuhkan, jika Anda tidak pernah terluka ? Bagaimana Anda tahu rasanya cinta begitu hangat jika Anda tidak pernah merasa kesepian ?

July 24, 2009

Juli



Best man makes the best mistakes

Saya baru menyadari tepat setahun sudah, relationship yang sedang saya rasakan dengan best man tetap tidak bisa diakui. Dan di saat yang sama, saya memutuskan untuk ‘mengakhiri’ hubungan ini. Sejujurnya saya sangat sedih.

Tidak bisa dipungkiri kalau relationship ini telah memberikan kontribusi yang cukup besar dalam perkembangan paradigm saya. Bahkan jika saya harus membawa alasan pribadi, he is the first man I introduce to my family and my friends.

Sekarang masalahnya terjadilah seperti yang sering saya katakan sebelumnya. Hubungan tanpa pengakuan terasa amat sakit. Saya tahu status adalah sesuatu yang penting dalam sebuah hubungan, namun khusus untuk relationship ini saya harus mengesampingkan prinsip tersebut. Bahkan setelah status tidak saya tuntut, haruskah sebuah pengakuan juga tidak terucapakan ?

Saya tahu dan teramat sadar, relationship saya dengan dirinya adalah sebuah hal yang salah. Namun apapun yang telah terjadi di sepanjang hubungan kami, itu adalah hal yang bukan hayalahn karena ini benar – benar terjadi.

Sekalipun tidak ada orang lain yang tahu selain saya dan dirinya, tapi bagaimanapun juga saya seorang perempuan. Saya punya hati, dan saya tahu dia pria yang berperasaan. Tapi yang menjadi kegusaran saya, kenyataannya saya punya hak untuk diakui. Namun sayangnya itu tidak bisa dilakukan, kecuali kalau memang dari dirinya sendiri mengakui ada hubungan dengan saya. Karena pertimbangan itulah saya memutuskan untuk mundur.

Saya tidak mau menyalahkan siapa – siapa. Sebab dari pertama kali, kami menyatakan sebuah statement, bahwa kami berdua harus mengerti batas dan konsekuensinya. Dengan demikian, lengkap sudah cerita ini.

Semua yang terjadi sampai pertemuan intense kami yang terakhir adalah batas dari batas paling akhir relationship kami, dan rasa sakit yang sedang saya rasakan, adalah konsekuensi dari hubungan kami.

Actually I don’t know when and how we started this relationship. And I really don’t care about that. For me, when you called me ‘mom’, I trust you are part of my life.

A

Ada saatnya kita lupa sama dia karena sibuk, namun ada saatnya kita lupa dengan kesibukan kita karena kepikiran dia lagi.