August 30, 2010

Pacaran


Gairah cinta menjadi paling manis saat ada di relationship yang memiliki komitmen mendalam.

Pacaran hanyalah istilah yang dipakai generasi ini untuk menyebut dua orag yang memiliki hubungan khusus. Biasanya hal ini sangat dipengaruhi lingkungan sosia di sekitarnya. Tetapi pada faktanya, tidak ada peraturan tertulis atau hukum legal yang menyatakan apa yang boleh atau tidak dilakukan dalam kegiatan pacaran.

Ironsinya, kini tidak sedikit anak muda yang memanfaatkan label pacaran untuk menghindari dosa social. Mengapa demikian? Karena pacaran umumnya diidentikan dengan aktivitas fisik. Sepertinya kalau sudah berstatus pacaran, maka tubuh ini menjadi milik bersama. Terjadilah hukum take and give atau istilah you turn.

Sebagian besar berpendapat, kalau tidak ada aktivitas fisik apa bedanya dengan teman biasa? Memang pendapat ini ada benarnya dari pandangan yang salah. Tetapi kalau tujuannya hanya untuk sentuhan mendalam, bukankah status tidak begitu masalah? One night stand service, open room, dan berbagai menu kilat lainnya sebenarnya menunjukan kalau ada sekelompok orang yang tidak memperdulikan status, yang penting kesenangan dari kegiatan fisik tsb.

Satu hal yang ingin saya katakan, bahwa saya berada di posisi kontra dengan istilah pacaran. Bukan berarti saya tidak pernah pacaran. Justru karena pengalaman itulah yang membuat kita harus mempunyai prinsip dan standar masing-masing. Kalau begitu, apalagi melakukan aktivitas fisik tanpa status pernikahan. Harusnya kita murka ;p

Komitmen

Toh, namanya pacaran bersifat sementara. Bukankah terdengar lebih bijak kalau kita mempunyai hubungan istimewa dengan sebutan yang lain. Saya pikir dengan kita mempunyai komitmen mendalam, saling tahu dan percaya terlebih menjaga, relationship tsb akan jauh lebih sehat.

0 Comments:

Post a Comment