
Please Don’t Ask Too Much
Semua orang mempunyai hal-hal pribadi yang tidak ingin di sentuh oleh orang lain. Seperti masa lalu, pekerjaan, latar belakang atau sesuatu yang mengganggu bagi dirinya pribadi, dan hanya pantas dikonsumsi oleh diri sendiri, atau mungkin bersama orang terdekat saja cukup.
Kesadaran akan hal inilah yang harusnya bisa dimiliki oleh setiap kita. Apa mungkin sedang merebaknya wabah “Kepo”, sehingga rasa ingin tahu orang-orang di sekitar semakin meningkat drastic atau factor internalnya yang membuat orang tersebut ingin sekali mencari tahu kebenaran.
Mungkin bertanya/ menanyakan kabar adalah bagian dari cara manusia untuk saling menjaga komunikasi. Bertanya juga jalan untuk tetap membangun hubungan baik. Tapi, kita juga harus melihat dari sisi lainnya. Apakah yang dirasa si penerima pertanyaan jika kita ditanyakan hal-hal pribadi?
Basa-basi busuk memang tidaklah benar, tapi itu lebih baik dilakukan daripada bertanya banyak hal dan akhrinya terkesan Mr. Know It All.
Begitupula dalam penjajakan. Ini masa pengenalan dan adjustment. Tidak perlu dalam sehari kamu harus tahu apa yang semua-mua-muanya. Bertanya seperti seorang interviewer atau bahkan terkesan diwawancara seperti pelamar. Pertanyaan yang banyak darimu justru membuat dia tampak sangat terganggu.
Semua ada proses. Ini bukan motto JK – Lebih cepat lebih baik. Ini tentang perkenalan dan penjajakan. Pertanyaan itu baik. Tapi bukan satu-satunya cara untuk mendekatkan diri dengan lawan jenis. Biarkan semua tampak natural dan ingat bahwa sekalipun kamu sudah merasa tahu semuanya tentang dia, proses perkenalan dengan orang lain itu membutuhkan waktu sangat banyak.
Frekuensi kontak tidak harus setiap hari. Memangnya dia siapa tidak ada kerjaan, dan hanya menjawab semua pertanyaanmu. Intensitas juga tidak menentukan kualitas keberhasilan dalam masa penjajakan. Please don’t ask too much. Take it slow. Make it smooth. Don’t in a rush ;)
0 Comments:
Post a Comment